Mengapa Saya Meninggalkan Kapitalisme demi Ekonomi Kerakyatan
Pedang yang Menjadi Cangkul: Sebuah Manifesto Perubahan
"Dulu, dunia adalah medan laga, dan saya adalah pemburu kemenangan. Di masa muda yang berapi-api, saya memuja angka, mendewakan kompetisi, dan merayakan saat lawan-lawan saya menundukkan kepala. Saya merasa telah menaklukkan peta, meraih puncak makro yang agung, dan memenangkan pertempuran-pertempuran yang saya kira adalah segalanya.
Namun, kemenangan itu terasa hampa saat saya melintasi batas desa.
Di pematang perkebuna kopi, di bawah terik matahari yang tak kenal ampun, saya melihat dedikasi yang jauh lebih murni dari sekadar persaingan saham atau dominasi pasar. Saya melihat petani. Mereka tidak bertempur untuk menjatuhkan lawan; mereka bekerja untuk menghidupkan kehidupan. Di tangan mereka yang berlumpur, makna 'kemenangan' yang saya genggam selama ini hancur berkeping-keping.
Saya menyadari: Apa gunanya pertumbuhan jika ia hanya memanjat menara gading, sementara mereka yang memberi kita makan masih bergelut dengan sesuap nasi?
Cukuplah sudah era kapitalisme yang haus akan akumulasi tanpa henti. Hari ini, saya menanggalkan jubah 'pemenang' yang egois itu. Saya beralih pada Ekonomi Kerakyatan.
Saya tidak lagi mengejar angka pertumbuhan yang dingin di atas kertas, melainkan hangatnya kebahagiaan komunal di meja-meja makan rakyat jelata. Perjuangan saya kini bukan lagi tentang siapa yang paling kuat di puncak, tapi tentang bagaimana kita semua bisa berdiri tegak secara bersama.
Sebab kemenangan sejati bukan tentang berapa banyak kepala yang berhasil kita tundukkan, melainkan tentang berapa banyak martabat yang berhasil kita angkat.
Dari penguasa pasar, menuju pengabdi akar."
Komentar